Jumat, 15 Mei 2020

HIPERREALITAS DAN SIMULACRA

HIPERREALITAS DAN SIMULACRA
Oleh : Kusubandio

Hiperrealitas dan Simulacra adalah konsep yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard  (1926-2007) , sebuah konsep dimana realitas yang dalam konstruksinya tidak bisa dilepaskan dari produksi dan permainan tanda-tanda yang melampaui realitas aslinya .  Hiperrealitas menciptakan suatu kondisi dimana kepalsuan bersatu dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran. Hiperrealitas menghadirkan model-model kenyataan sebagai sebuah simulasi bagi penikmatnya (simulacrum). Simulasi adalah suatu proses dimana representasi  atas dasar tanda-tanda realitas , dimana tanda-tanda tersebut justru menggantikan objek itu sendiri, dimana representasi itu menjadi hal yang lebih penting dibandingkan objek tersebut .  Simulasi hadir bukan untuk melukiskan realitas yang diwakilkannya, tetapi mereka hadir hanya untuk mengacu pada dirinya sendiri & melampaui realitas aslinya. Dalam penjelasannya, seperti pada kondisi masyarakat saat ini, apalagi dengan kemajuan Medsos  saat ini, media mempunyai suatu peranan penting dalam penyebaran informasi  sehingga penyebaran tersebut akan diserap oleh  masyarakat luas. Kemudian masyarakat tersebut menerima informasi dan membuat masyarakat menganggap bahwa informasi tersebut sebagai suatu kebenaran.  Dari titik ini, Baudrillard menggunakan istilah simulacrum yang merupakan cara pemenuhan kebutuhan masyarakat kontemporer akan  menerima  suatu realitas dimana objek realitas itu sudah tidak berfungsi lagi sebagai tanda, sehingga dapat dikatakan bahwa realitas palsu. Karena mayarakat saat ini telah hidup di era postmodern, bukan lagi era modernitas, dan ini ditandai dengan adanya beragam simulasi. Proses simulasi ini mengarah pada simulacra. Simulacra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung.
Menurut Baudrillard,  simulacra, mulai terjadi sejak zaman Renaisance, namun menurut pendapat penulis, simulacara, sebagai bias kebenaran sosial, sudah terjadi sejak komunitas masyarakat terbentuk. Meskipun pembentukan  kebenaran  sosial ( simulacra), dibentuk oleh pemikiran dan kehendak  tokoh tokoh dominan dimasyarakat tersebut. Semakin kompleks, struktur dan tatanan masyarakat, maka  “ bias kebenaran sosial”, telah disumbangkan oleh semakin banyak pemikiran  maupun ungkapan “ simulasi kebenaran”  dari banyak pihak. Meskipun manusia, seringkali melakukan generalisasi masalah. Seolah  suatu  tatanan sosial, dalam kehidupan masyarakat, dibentuk  didominasi  oleh pemikiran tokoh tertentu. Karena kita terpukau oleh peran Nabi, atau tokoh tertentu  yang berhasil “mengubah dunia”.  Padahal,  kenyataan sosial yang sesungguhnya terjadi tidak sesederhana itu. Seperti kita ketahui  terjadinya “ bias sosial sosial”  dalam suatu masyarakat , antara lain dapat dilihat dari penuturan sejarah.  Meskipun  sejarah, dalam banyak hal dibuat oleh “para pemenangnya”.  Sebagai contoh  sederhana, apa yang sesungguhnya terjadi pada Era Sukarno, Era Suharto , Era SBY bahkan hingga Era Jokowi, kita  sesungguhnya sulit menilai  “kebenaran sosial” yang terjadi.  Penamaan era dengan nama tokoh, itu  sendiri  sudah merupakan   pembiasan informasi.  Belum lagi kalau  pengamatan seseorang ahli, digunakan sebagai tolok ukur pengamatan. Karena pengamat  yang  pro pada Sukarno, maka berbagai  bukti dan sisi kebaikan Sukarno  dapat diangkat. Namun kalau pengamat  itu   kurang suka pada Sukarno, maka  banyak peristiwa  sosial  dimasa Sukarno, yang juga bisa diangkat.  Demikian juga yang terjadi pada Era Soeharto , Era SBY dan Era JKW  yang kini kita alami. Tak satupun,  pendapat dan pandangan dari pengamat, yang dapat menilai  “ bias sosial” yang terjadi  dengan penilaian yang sepenuhnya obyektip.  Padahal hasil  pengamatannya kalau dirinya merupakan tokoh dominan, bisa berkontribusi bagi   terjadinya “ bias sosial”  yang  terjadi  dimasyarakat dimana informasi  itu disebarkan.   
Meskipun  dalam menilai suatu kondisi masyarakat, kita bisa menggunaan berbagai indikator indikator penilaian. Namun , itu semua  tidak sepenuhnya bisa menjadi fakta yang mewakili   mewakili ( kebenaran) keadaan sosial yang  sesungguhnya terjadi.  Semakin  kompleks   kehidupan, maka  yang sesungguhnya kita perlu menyadari bahwa membentuk tatanan sosial  yang ada , disebabkan begitu banyak pemikiran  dan pengaruh.  
Sejalan dengan. itu,  Baudrillard , disamping berhasil mengangkat “ kondisi simulacra dimasyarakat ” juga memberi contoh tentang peran media massa. Media, ujar dia, lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencermirkan realitas, namun seakan menjadi realitas itu sendiri. Saksikan dengan seksama bagaimana media mendramatisasi peristiwa. 
Pengamat,  ilmuwan/ akademisi , termasuk lembaga survaipun tidak sedikit yang masuk dalam dunia simulacra yang sarat realitas buatan. Pemikiran dan tulisannya tampak ilmiah, tetapi terasa sekali dilakukan  secara  tendensius.  Kita bisa saksikan bahwa stasiun TV  A berbeda dengan TV B, C dst;  dalam memberikan ulasan/ penyampaian  berita yang sama namun bisa saling  bertentangan. Demikian juga halnya juga terjadi  dengan   berita yang disampaikan melalui  berbagai Surat Kabar . Kita juga dapat  menyaksikan, pada berbagai acara talkshow didalamnya penuh rekayasa. Bahkan para “sutradara”  talkshow,    seolah ingin menyampaikan informasi secara berimbang, namun  dirinya sendiri   sudah cenderung telah berpretensi.  Keadaan semakin.  membingungkan, karena semua dilakukan dengan mengatas  namakan pandangan rakyat banyak.   Semua ada narasi simulasi dan rekayasa sosial. Baudrillard  menyebutnya sebagai "cyberblitz".
Semua itu  terjadi  akibat  adanya kepentingan bisnis, maupun  ada kepentingan politik dan sosial  tertentu. Dengan kemajuan teknologi Medsos, dimana setiap orang bisa menyampaikan pikirannya dengan bebas, tanpa perlu etika. Yang antara lain, akibat komunikasi tanpa tatap muka yang didukung  kebebasan bersuara.  Setiap orang, meskipun   baru mendengarkan  informasi yang terbatas, dapat menjadi pengulas  yang serba bisa, dan mengunggahnya di Medsos.  Atau, mereka  karena setuju  dengan suatu informasi  tertentu, meneruskan informasi kepada pihak lain, meskipun informasi itu adalah hoax atau fitnah.
Meskipun banyak berita yang disampaikan  merupakan  kebenaran , namun  bercampur baur  dengan berita yang direkayasa secara canggih ,  yang sebenarnya merupakan   fitnah dan berita bohong  ( hoax), maka kita sulit menilai manakah  informasi  yang benar .  Berbohong dengan meminjam term Michael  Foucault, seorang filosof Perancis, yang mendefinisikan  sebagai tindakan manusia untuk mengabaikan,  mengabstraksikan, membuat topeng atau menyembunyikan atau memperoduksi kebenaran yang hanya. versi dirinya sendiri.
Uniknya semua pihak, merasa telah menyampaikan kebenaran, kebaikan dan membela keadilan. Bahkan itupun dilakukan oleh massmedia terkenal  sekalipun, dengan menyampaikan berita yang menyesatkan, dengan mengatasnamakan   sebagai hak dan kebebasan Pers.  Sehingga bagi masyarakat pencari kebenaran, sesungguhnya sulit menemukan  institusi  yang dapat dipercaya. Atau sebaliknya  menjadikan masyarakat  mudah mempercayai informasi yang tidak benar.
Kalau pada masa lalu, hoax, melemparkan berita palsu, hanya dimiliki dan dilakukan oleh kalangan intelejens, dalam menciptakan  pengaruh, seperti yang dilakukan ; CIA, KGB, M16, Mossad dsb. Kini siapapun bisa melakukannya. Dunia informasi, kini semakin semrawut, suatu keadaan yang nyata dan didepan mata,  yang  akan dihadapi oleh Lembaga  formal maupun informal  manapun dan apapun.  Sehingga tidak mustahil, semua pihak terkait  akhirnya larut  dan turut “ bermain” menciptakan  “simulacra”.
Dalam alam demokrasi  , maka  dunia politik, media, sosial,  ekonomi dan keilmuan  semuanya  telah  terjangkiti simulacra. Realitas yang ditampilkan tampak seolah benar dan objektif, namun bisa jadi merupakan    rekayasa dan  pencitraan semu.   Sebuah “kebenaran dan objektivitas”  yang dikonstruksikan  sesuai  berkepentingan  masing masing pihak. 
Bangsa Indonesia, yang dinilai sebagai bangsa yang emosional dan kurang orang rasional, mudah disimpangkan  oleh  informasi yang menyesatkan. Masalah menjadi semakin rumit, kalau masalah agama dan ras , dilibatkan dalam persaingan  politik kekuasaan  dalam makna yang luas.  Kini   adalah  zaman dimana yang benar  menjadi salah, yang salah menjadi benar, dengan segala kombinasi dan intensitasnya,  dimana kita sulit untuk membedakannya.  
Hanya mereka yang cerdas, kritis  dan rasional, yang mampu menemukan kebenaran informasi dalam  kesemrawutan informasi, itupun harus dilakukan dengan  susah payah, karena perlu melakukan check dan recheck   secara  kreatif. Menjadi  bijaksana, menjadi kunci, dalam kondisi  dimana kebaikan dan kebenaran serta keadilan, menjadi tidak jelas!
Hanya  pemerintahan yang tegas namun bijaksana yang  didukung  oleh para akademisi  yang  dan tokoh masyarakat yang bukan sekedar mampu menegakkan kebaikan dan kebenaran serta keadilan yang obyektif, namun  juga bijaksana ; yang akan mampu mengatasi kondisi hiper-realitas  dan simulacra mengarah ke” jalan yang lurus”.
Bukankah bangsa dan masyarakat Indonesia, pada umumnya adalah bangsa  paternalistis, bangsa mengikuti para pemimpin panutannya?