HIPERREALITAS DAN SIMULACRA
Oleh : Kusubandio
Hiperrealitas dan Simulacra adalah konsep yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard (1926-2007) , sebuah konsep dimana realitas yang dalam konstruksinya tidak bisa dilepaskan dari produksi dan permainan tanda-tanda yang melampaui realitas aslinya . Hiperrealitas menciptakan suatu kondisi dimana kepalsuan bersatu dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran. Hiperrealitas menghadirkan model-model kenyataan sebagai sebuah simulasi bagi penikmatnya (simulacrum). Simulasi adalah suatu proses dimana representasi atas dasar tanda-tanda realitas , dimana tanda-tanda tersebut justru menggantikan objek itu sendiri, dimana representasi itu menjadi hal yang lebih penting dibandingkan objek tersebut . Simulasi hadir bukan untuk melukiskan realitas yang diwakilkannya, tetapi mereka hadir hanya untuk mengacu pada dirinya sendiri & melampaui realitas aslinya. Dalam penjelasannya, seperti pada kondisi masyarakat saat ini, apalagi dengan kemajuan Medsos saat ini, media mempunyai suatu peranan penting dalam penyebaran informasi sehingga penyebaran tersebut akan diserap oleh masyarakat luas. Kemudian masyarakat tersebut menerima informasi dan membuat masyarakat menganggap bahwa informasi tersebut sebagai suatu kebenaran. Dari titik ini, Baudrillard menggunakan istilah simulacrum yang merupakan cara pemenuhan kebutuhan masyarakat kontemporer akan menerima suatu realitas dimana objek realitas itu sudah tidak berfungsi lagi sebagai tanda, sehingga dapat dikatakan bahwa realitas palsu. Karena mayarakat saat ini telah hidup di era postmodern, bukan lagi era modernitas, dan ini ditandai dengan adanya beragam simulasi. Proses simulasi ini mengarah pada simulacra. Simulacra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung.
Menurut Baudrillard, simulacra, mulai terjadi sejak zaman Renaisance, namun menurut pendapat penulis, simulacara, sebagai bias kebenaran sosial, sudah terjadi sejak komunitas masyarakat terbentuk. Meskipun pembentukan kebenaran sosial ( simulacra), dibentuk oleh pemikiran dan kehendak tokoh tokoh dominan dimasyarakat tersebut. Semakin kompleks, struktur dan tatanan masyarakat, maka “ bias kebenaran sosial”, telah disumbangkan oleh semakin banyak pemikiran maupun ungkapan “ simulasi kebenaran” dari banyak pihak. Meskipun manusia, seringkali melakukan generalisasi masalah. Seolah suatu tatanan sosial, dalam kehidupan masyarakat, dibentuk didominasi oleh pemikiran tokoh tertentu. Karena kita terpukau oleh peran Nabi, atau tokoh tertentu yang berhasil “mengubah dunia”. Padahal, kenyataan sosial yang sesungguhnya terjadi tidak sesederhana itu. Seperti kita ketahui terjadinya “ bias sosial sosial” dalam suatu masyarakat , antara lain dapat dilihat dari penuturan sejarah. Meskipun sejarah, dalam banyak hal dibuat oleh “para pemenangnya”. Sebagai contoh sederhana, apa yang sesungguhnya terjadi pada Era Sukarno, Era Suharto , Era SBY bahkan hingga Era Jokowi, kita sesungguhnya sulit menilai “kebenaran sosial” yang terjadi. Penamaan era dengan nama tokoh, itu sendiri sudah merupakan pembiasan informasi. Belum lagi kalau pengamatan seseorang ahli, digunakan sebagai tolok ukur pengamatan. Karena pengamat yang pro pada Sukarno, maka berbagai bukti dan sisi kebaikan Sukarno dapat diangkat. Namun kalau pengamat itu kurang suka pada Sukarno, maka banyak peristiwa sosial dimasa Sukarno, yang juga bisa diangkat. Demikian juga yang terjadi pada Era Soeharto , Era SBY dan Era JKW yang kini kita alami. Tak satupun, pendapat dan pandangan dari pengamat, yang dapat menilai “ bias sosial” yang terjadi dengan penilaian yang sepenuhnya obyektip. Padahal hasil pengamatannya kalau dirinya merupakan tokoh dominan, bisa berkontribusi bagi terjadinya “ bias sosial” yang terjadi dimasyarakat dimana informasi itu disebarkan.
Meskipun dalam menilai suatu kondisi masyarakat, kita bisa menggunaan berbagai indikator indikator penilaian. Namun , itu semua tidak sepenuhnya bisa menjadi fakta yang mewakili mewakili ( kebenaran) keadaan sosial yang sesungguhnya terjadi. Semakin kompleks kehidupan, maka yang sesungguhnya kita perlu menyadari bahwa membentuk tatanan sosial yang ada , disebabkan begitu banyak pemikiran dan pengaruh.
Sejalan dengan. itu, Baudrillard , disamping berhasil mengangkat “ kondisi simulacra dimasyarakat ” juga memberi contoh tentang peran media massa. Media, ujar dia, lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencermirkan realitas, namun seakan menjadi realitas itu sendiri. Saksikan dengan seksama bagaimana media mendramatisasi peristiwa.
Pengamat, ilmuwan/ akademisi , termasuk lembaga survaipun tidak sedikit yang masuk dalam dunia simulacra yang sarat realitas buatan. Pemikiran dan tulisannya tampak ilmiah, tetapi terasa sekali dilakukan secara tendensius. Kita bisa saksikan bahwa stasiun TV A berbeda dengan TV B, C dst; dalam memberikan ulasan/ penyampaian berita yang sama namun bisa saling bertentangan. Demikian juga halnya juga terjadi dengan berita yang disampaikan melalui berbagai Surat Kabar . Kita juga dapat menyaksikan, pada berbagai acara talkshow didalamnya penuh rekayasa. Bahkan para “sutradara” talkshow, seolah ingin menyampaikan informasi secara berimbang, namun dirinya sendiri sudah cenderung telah berpretensi. Keadaan semakin. membingungkan, karena semua dilakukan dengan mengatas namakan pandangan rakyat banyak. Semua ada narasi simulasi dan rekayasa sosial. Baudrillard menyebutnya sebagai "cyberblitz".
Semua itu terjadi akibat adanya kepentingan bisnis, maupun ada kepentingan politik dan sosial tertentu. Dengan kemajuan teknologi Medsos, dimana setiap orang bisa menyampaikan pikirannya dengan bebas, tanpa perlu etika. Yang antara lain, akibat komunikasi tanpa tatap muka yang didukung kebebasan bersuara. Setiap orang, meskipun baru mendengarkan informasi yang terbatas, dapat menjadi pengulas yang serba bisa, dan mengunggahnya di Medsos. Atau, mereka karena setuju dengan suatu informasi tertentu, meneruskan informasi kepada pihak lain, meskipun informasi itu adalah hoax atau fitnah.
Meskipun banyak berita yang disampaikan merupakan kebenaran , namun bercampur baur dengan berita yang direkayasa secara canggih , yang sebenarnya merupakan fitnah dan berita bohong ( hoax), maka kita sulit menilai manakah informasi yang benar . Berbohong dengan meminjam term Michael Foucault, seorang filosof Perancis, yang mendefinisikan sebagai tindakan manusia untuk mengabaikan, mengabstraksikan, membuat topeng atau menyembunyikan atau memperoduksi kebenaran yang hanya. versi dirinya sendiri.
Uniknya semua pihak, merasa telah menyampaikan kebenaran, kebaikan dan membela keadilan. Bahkan itupun dilakukan oleh massmedia terkenal sekalipun, dengan menyampaikan berita yang menyesatkan, dengan mengatasnamakan sebagai hak dan kebebasan Pers. Sehingga bagi masyarakat pencari kebenaran, sesungguhnya sulit menemukan institusi yang dapat dipercaya. Atau sebaliknya menjadikan masyarakat mudah mempercayai informasi yang tidak benar.
Kalau pada masa lalu, hoax, melemparkan berita palsu, hanya dimiliki dan dilakukan oleh kalangan intelejens, dalam menciptakan pengaruh, seperti yang dilakukan ; CIA, KGB, M16, Mossad dsb. Kini siapapun bisa melakukannya. Dunia informasi, kini semakin semrawut, suatu keadaan yang nyata dan didepan mata, yang akan dihadapi oleh Lembaga formal maupun informal manapun dan apapun. Sehingga tidak mustahil, semua pihak terkait akhirnya larut dan turut “ bermain” menciptakan “simulacra”.
Dalam alam demokrasi , maka dunia politik, media, sosial, ekonomi dan keilmuan semuanya telah terjangkiti simulacra. Realitas yang ditampilkan tampak seolah benar dan objektif, namun bisa jadi merupakan rekayasa dan pencitraan semu. Sebuah “kebenaran dan objektivitas” yang dikonstruksikan sesuai berkepentingan masing masing pihak.
Bangsa Indonesia, yang dinilai sebagai bangsa yang emosional dan kurang orang rasional, mudah disimpangkan oleh informasi yang menyesatkan. Masalah menjadi semakin rumit, kalau masalah agama dan ras , dilibatkan dalam persaingan politik kekuasaan dalam makna yang luas. Kini adalah zaman dimana yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar, dengan segala kombinasi dan intensitasnya, dimana kita sulit untuk membedakannya.
Hanya mereka yang cerdas, kritis dan rasional, yang mampu menemukan kebenaran informasi dalam kesemrawutan informasi, itupun harus dilakukan dengan susah payah, karena perlu melakukan check dan recheck secara kreatif. Menjadi bijaksana, menjadi kunci, dalam kondisi dimana kebaikan dan kebenaran serta keadilan, menjadi tidak jelas!
Hanya pemerintahan yang tegas namun bijaksana yang didukung oleh para akademisi yang dan tokoh masyarakat yang bukan sekedar mampu menegakkan kebaikan dan kebenaran serta keadilan yang obyektif, namun juga bijaksana ; yang akan mampu mengatasi kondisi hiper-realitas dan simulacra mengarah ke” jalan yang lurus”.
Bukankah bangsa dan masyarakat Indonesia, pada umumnya adalah bangsa paternalistis, bangsa mengikuti para pemimpin panutannya?