Shalat Khusuk
Oleh : Kusubandio
Berbagai metoda shalat khusuk yang melengkapi syari’ah shalat, telah banyak dituliskan dan dikemukakan para Uztad, Kyai dan Ulama. Mulai dari metoda yang rumit hingga metoda standar, mengikuti ketentuan syari’ah. Uztad Abu Sangkan secara khusus mendalami dan mengajarkan shalat khusuk, banyak tokoh lain juga menjelaskan dan mengajarkan shalat khusuk. Kita bisa mendapatkannya dari internet. Akibat banyak umat yang tidak merasakan manfaat shalat, kemudian belajar meditasi, yang bersifat lintas agama. Karena itu ada anggapan, bahwa shalat adalah semacam meditasi, yang intinya mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang menyatakan bahwa islam tidak mengenal meditasi. Apapun tanggapan, adalah kenyataan bahwa kebanyakan umat islam menjalankan shalat karena kewajiban.
Karena menjalankan shalat itu kewajiban dan bukan kebutuhan, maka kita sering mandirikan shalat secara ala kadarnya, yang penting telah menyelesaikan kewajiban. Dan selama menjalankan prosesi shalat, umumnya pikiran kita melompat kesana kemari ( monkey-mind). Hampir sebagian besar prosesi shalat yang kita laksanakan berlangsung seperti itu.
Ada kekeliruan mendasar dalam memahami perintah shalat. Kita shalat bukan untuk Allah, namun untuk kepentingan diri kita sendiri. Karena melalui shalat, kita bisa mendekatkan diri kepada Allah. Yaitu agar kita memperoleh bimbingan, petunjuk dan kemampuan melaksanakannya. Karena setiap waktu setiap detik, manusia harus memutuskan sesuatu bagi jalan kehidupannya. Melalui petunjuk dan bimbngan Allah, maka langkah kehidupan kita bisa lebih efektip dan efisien dalam mencapai tujuan kehidupan. Karena melalui petunjuk Allah, langkah kita “ berada di jalan yang lurus”. Itulah essensi doa kita melalui surah Al Fatihah yang 17 kali sehari dibaca dalam shalat. Tanpa petunuk Allah, kehidupan kita bukan saja tidak akan efektip dan efisien, melainkan juga bisa tersesat. Nabi Muhammad yang seorang Nabipun, selalu memohon petunjuk yang sama kepada Allah.
Kalau kita bisa merasakan diperolehnya petunjuk dan kekuatan dari Allah, maka kita akan merasakan manfaatnya. Bila dengan mendirikan shalat kita rasakan manfaatnya, maka shalat akan menjadi kebutuhan. Dan shalat yang membawa manfaat, adalah kalau dilaksanakan secara khusuk. Sehingga mendirikan shalat yang khusuk sangat penting. Meskipun dari sepanjang waktu prosesi shalat, kekhusukan kita hanya beberapa saat. Itu sudah cukup untuk menjadikan eptunjuk Allah merasuk kedalam jiwa.
Terdapat aspek ajaran sederhana yang dilupakan namun mendasar dari ajaran Islam yang bermanfaat bagi shalat yang khusuk. Yaitu dengan memaknai dan mengamalkan kata “Islam” dengan baik dan benar. Islam, mempunyai makna “ berserah diri hanya kepada Allah”. Berserah diri hanya kepada Allah, berbeda dengan berserah diri kepada orang atau penguasa, yang menjadikan kita “ terjajah”. Berserah diri kepada Allah, justru kita “dimerdekakan Allah”, karena kita dimerdekakan dari keterikatan duniawi yang menjerat manusia. Setiap manusia, sejak dalam kandungan, lahir menjadi anak, remaja dan dewasa, sudah terbiasa dengan keduniawian. Karena itu apapun yang dilakukan manusia tak lepas dari keterikatannya pada dunia. Bahkan dalam keberagamaan sekalipun, yang dikatakan sebagai ajaran yang bersifat relijius atau spiritual, mengutamakan keduniaan Ini wajar karena manusia hidup dalam dunia materi, ruang dan waktu yang keduniaan.
Karena itu untuk mau menjalankan perintah shalatpun, harus diiming imingi dengan pahala “surga yang keduniaa duniaan”, penuh dengan kenikmatan dan kesenangan. Sehingga sering difahami bahwa melalui shalat , kita bisa mendapatkan pahala surga. Padahal melalui shalat yang khusuk, kita baru menerima “petunjuk jalan yang lurus”. Setelah kita mampu mengamalkan “ petunjuk jalan lurus dari Allah” dalam menjalani sepanjang kehidupan kita, maka barulah kita memperoleh pahala surga.
Uniknya sekalipun dikatakan para ulama, bahwa kalau mendirikan shalat, secara tertib dan tepat waktu, umat islam pasti akan mendapatkan pahala surga. Namun banyak umat masih tidak tertarik untuk mendirikan shalat 5 secara tertib, apalagi berupaya serius supaya shalatnya khusuk. Apakah mereka meragukan pemahaman itu atau mendirikan shalat 5 waktu dianggap suatu beban berat. Dari hasil pengamatan terhadap umat yang shalat, hanya sebagian kecil umat islam dewasa ( sekitar 10-20%), yang mendirikan shalat secara tertib dan sekitar 50-60% pria muslim yang hanya melaksanakan shalat Jum’at berjamah ( agar tepat angkanya, perlu survai yang serius). Karena itulah maka masjid menjadi penuh. Hal ini dapat disebabkan karena manfaat shalat kurang dirasakan, sekedar melaksanakan kewajiban, itupun dikerjakan dengan setengah keterpaksaan.
Karena itu sepantasnya kita melakukan peninjauan ulang terhadap tatanan dan sikap kita dalam mendirikan shalat. Shalat khusuk sangat penting, karena hanya dengan mendirikan shalat yang khusuk kita dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh petunjuk dan kekuatan Allah. Ada dua tahapan sasaran manusia dalam mendirikan shalat.
Pertama, adalah sebagai sarana melakukan permohonan agar sukses dalam menjalankan kehidupan dunia. Kedua, agar sukses dalam mencapai tujuan akhirat.
Sasaran pertama, adalah sasaran / permohonan kepada Allah, yang sifatnya lebih keduniaan. Yaitu seperti misalnya, memohonkan kepada Allah, kedudukan/ status/ kemanfaatan, kekayaan/ kecukupan, kesehatan lahir dan batin, kehidupan keluarga yang menyenangkan. Meskipun bersifat keduniaan, permohonan ini wajar, dan akan dapat tercapai kalau dilakukan secara khusuk. Proses ini umumnya dilakukan melalui kata kata yang positip dan mengandung kepastian sekaligus dilakukan konfirmasi melalui visualisasi. Misalnya wujud doanya adalah; dengan perkenan Allah, saya sehat wa alfiat. Dan bayangkan kesehatan yang wa al fiat itu. Semakin khusuk dan focus kita berdoa, maka semakin cepat realisasi doa tersebut.
Namun itu semua adalah merupakan sasaran awal. Karena ketercapaian dari permohonan ini lebih mengutamakan factor; kenikmatan dan kepuasan yang sifatnya temporer, yang lebih banyak ditentukan faktor eksternal, maka akan dapat mengudang ujian, godaan atau cobaan atau proses pembelajaran yang lebih berat.
Sasaran kedua, adalah sasaran / permohonan kepada Allah yang sifatnya netral atau hakiki. Ini adalah tujuan shalat yang utama. Yaitu seperti; kesucian jiwa, kebahagiaan dan kebijaksanaan , yang ditujukan untuk memajukan kehidupan diri dan umat manusia, namun tanpa terikat pada keduniaan. Ini adalah permohonan yang mempunyai tujuan akhirat. Suatu permohonan yang luhur, yang pada dasarnya tidak ditentukan oleh factor eksternal melainkan lebih banyak ditentukan factor internal. Dan kalau hanya faktor internal saja yang menentukan, maka itulah keberhasilan tertinggi. Proses permohonan yang makbul, juga sama, meskipun permohonannya berbeda. Yaitu melalui konfirmasi dan visualisasi yang teguh dan sungguh sungguh dan dilakukan secara khusuk.
Namun bagaimana cara mendirikan shalat yang khusuk?
Kesiapan shalat itu telah kita lakukan sejak kita melaksanakan ritus wudhu, yang bukan saja mensucikan diri secara phisik namun yang lebih penting adalah mensucikan batin , khusunya pikiran kita. Mensucikan, bermakna agar kita “ tetap hidup menjalankan tugas hidup didunia, namun membebaskan diri dari keterikatan pada keduniaan”. Untuk memperkuat upaya pensucian jiwa, maka sebelum takbir, maka terlebih tubuh dan batin kita dibuat rileks. Baik tubuh, mulai dari otot, syaraf dan anggota badan, hingga pada sikap batin. Dari ujung kaki hingga ujung rambut, perlu rileks upaya ini untuk mendukung agar batin kita tenang dan damai. Kemudian mulailah, kita untuk sementara mengistirahatkan akal pikiran, perasaan dan nafsu ( bukan mengosongkan). Atau dapat juga kita melepaskan berbagai sifat kedirian, seperti sikap mementingkan diri, sombong, dengki dan iri hati yang disebut sebagai fasik. Yang intinya, kita merendahkan hati dihadapan Allah dan siap bertaqwa kepadaNya.
“….. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya….” ( Asy Syams/91 : 7-10)
Untuk menjaga agar pikiran kita tidak lari kemana mana, maka perhatian kita dapat diarahkan kepada gerak nafas, keluar dan masuk. Upaya taikan dan keluar nafas, bisa diakitkan dengan bacaan. Meskipun pada saat batin kita telah khusuk maka arah perhatian itu terhadap nafas dan bacaan itu akan lebur menyatu dalam diri kita.
Suatu persiapan dan upaya yang diperlukan agar selama prosesi shalat, kita mampu membangun sikap batin; “ berserah diri hanya kepada Allah” selama mendirikan shalat. Yaitu memaknai dan mengamalkan makna Islam; “berserah diri hanya kepada Allah” untuk memperkuat upaya pensucian batin, yaitu ; “ meskipun tetap hidup menjalankan tugas hidup didunia namun membebaskan diri dari keterikatan pada dunia”. Indikator sederhanya dari penyerahan diri hanya kepada Allah, kita mampu mengembangkan sifat kasih sayang, yang secara phisik kita tampilkan melalui senyuman.
Kalau upaya diatas masih belum berhasil. Maka sebelum kita mendirikan shalat, kita melakukan prosesi tambahan , yaitu duduk tafakur atau berdzikr sambil membangun sikap batin melalui relaksasi dan penyerahan diri hanya kepada Allah, sekitar 2-3 menit. Kalaupun selama shalat masih dirasakan belum mantap, maka setelah shalat, kembali duduk tafakur , berdzikr dan berserah diri hanya kepada Allah.
Hasil dari sikap “ berserah diri hanya kepada Allah” adalah sikap batin atau hati yang khusuk. Suatu keadaan yang tak bisa dikatakan melainkan hanya dapat dirasakan. Keadaan tenang, damai dan penuh kasih sayang yang diikuti senyum kebahagiaan dalam menghadapi kehidupan. Itulah keadaan dimana kita siap dan mampu menerima “ rahmat dan ilmu dari sisi Allah”. Shalat yang diterima Allah, juga dapat diindikasikan adanya sikap batin yang merasa damai, tenteram dan menemukan solusi atau jalan bagi permasalahan hidupnya.
Berbeda dengan meditasi yang dijalankan dengan “posisi tetap atau diam”, maka mendirikan shalat, dilakukan melalui gerakan, berdiri, rukuk, sujud dan duduk tahiyat, disamping juga membaca bacaan atau permohonan/ doa (yang isinya sesuai dengan alternative sasaran diatas). Sambil kita bersikap melakukan penyerahan diri, memperhatikan nafas , meletakkan untuk sementara akal pikiran , perasaan dan nafsu.
Suatu ritus yang secara spiritual sulit dikerjakan, tanpa menjadi kebiasaan. Karena harus dilakukan secara “ multi tasking”, sehingga pikiran, perasaan nafsu dan hati kita bisa terpecah perhatiannya, baik pada pikiran, gerakan dan ucapan.
Namun karena manusia itu mempunyai kemampuan menjalankan “multi tasking”, melakukan bermacam upaya sekaligus. Yaitu kalau dilatih, agar sebagian upaya dapat berjalan otomatis. Misalnya, agar gerakan shalat , agar tidak memecah pikiran, gerakan itu harus dijadikan gerakan otomatis yang tak perlu dipikirkan. Sedangkan terhadap ucapan bacaan, itu dihayati maknanya, sehingga akan memperkuat proses “penyerahan diri hanya kepada Allah” untuk membangun kekhusukan hati. Inilah keistimewaan manusia.
Bagi sasaran permohonan yang netral, maka permohonan / doa adalah ayat ayat tambahan atau doa yang netral, sifatnya mendukung isi surah Al Fatihah, “permohonan tertuntun dijalan yang lurus”, bukan interes pribadi, melainkan untuk kebaikan diri dan kebaikan bersama.
Ada pendekatan lain yang dapat dikerjakan secara simultan.
Tubuh manusia, terdiri dari jiwa dan raga. Jiwa, adalah suatu yang ghaib, dimana terdiri dari ; akal pikiran, perasaan dan nafsu. Dan raga, tempat jiwa menjalankan tugas kehidupan, suatu tubuh phisik, meliputi daging, tulang, syaraf, otot dan otak, dimana proses kehidupan nyata itu berjalan dan dijalankan.. Dalam kehidupan sehari hari, hubungan jiwa dan raga berlangsung otomatis. Dalam shalat; jiwa dan raga sebagai “mikrokosmos”, akan dihubungkan dengan Allah, sebagai “ makro kosmos”.
Untuk itu terlebih dahulu jiwa dan raga dipertalikan melalui kesadaran. Dan kesadaran akan pertalian itu, dapat dilakukan seolah dengan memasukkan jiwa dengan segala unsurnya, merasuk kedalam setiap sel sel raga diri manusia. Hal ini bisa dilakukan melalui proses “imajinasi”, sebagai awal kesadaran, untuk memasukkan jiwa kedalam setiap sel dalam tubuh/ raga.
Setelah itu, jiwa dan raga yang menyatu, ( mikrokosmos), dihubungkan atau ditebarkan atau diimajinasikan menyatu dengan alam semesta, sebagai manefestasi Allah ( makrokosmos). Maka akan terbangun suatu kesadaran yang dalam bahasa lain, sebagai “ penyerahan diri hanya kepada Allah”. Suatu kondisi yang memungkinkan manusia “menerima petunjuk dan bimbingan Allah”. Karena itu shalat yang khusuk dikatakan sebagai “ mirajd kehadirat Allah”.
Perlu diketahui, bahwa kalau dalam mendirikan shalat, akal pikiran, perasaan dan nafsu kita masih bekerja, maka “jiwa dan hati kita menjadi tertutup ” atau yang dikatakan sebagai “ terhijab dari petunjuk Allah”. Bahkan yang merasuk kedalam jiwa bisa jadi adalah kekuatan atau bisikan; “ penyesatan syaitan”, yang memperngaruhi akal pikiran, perasaan dan nafsu kita.
Hanya melalui sikap batin yang khusuk, maka “petunjuk dan bimbingan Allah dengan mudah merasuk kedalam jiwa”; akal pikiran dan perasaan serta nafsu kita. Yang bersamaan dengan itu Allah juga memberikan kekuatan dan kemudahan untuk melaksanakan petunjuk dan bimbingannya. Semakin khusuk shalat kita, maka semakin tinggi kualitas bimbingan, petunjuk dan kekuatan dari Allah. Meskipun petunjuk dan kekuatan Allah itu tidak dirasakan secara konkrit, karena prosesnya merupakan misteri. Indikator kalau proses itu terjadi, hati menjadi damai, tenang dan bahagia. Yang hanya akan dirasakan dalam hati nurani atau perasaan terdalam, yang bebas dari nafsu dan pikiran. Yang akan diperkuat, kalau hasil dari amal perbuatan kita itu mendatangkan kebaikan. Kebaikan bagi diri kita dan kebaikan bagi sesama.
Mendirikan shalat dengan sikap jiwa “berserah diri hanya kepada Allah”, perlu dilatih dari waktu kewaktu, karena sikap batin manusia naik-turun, akibat pengaruh pola pikir dan perilaku diri sendiri serta pengaruh lingkungan. Dan yang paling penting akhirnya adalah pengaruh diri sendiri, karena disitulah batin atau jiwa manusia terletak dan diletakkan. Sehingga ada kata kata Hadits dan Rumi, yang menyatakan : “ kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal Tuhanmu”, pengenalan Tuhan yang memungkinkan kita bisa memahami “petunjuk jalan yang lurus”. Jalan dan hasil terbaik yang selalu bisa kita syukuri.
Tanpa sikap khusuk dalam mendirikan shalat, maka berlakulah ketentuan ayat Al Qur’an:
“ Maka kecelakaanlah bagi orang orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya”, ( Al Maa’uun/ 107 : 4-5)
| | |
Shalat kita yang khusuk merupakan mirajd kita kehadapan Allah, pengenalan pada “ petunjuk jalan yang lurus”. Penglaman dan pemahaman diatas hanya merupakan salah satu jalan, karena bisa jadi banyak jalan dan upaya lain yang dapat dilakukan. Namun demikian metoda diatas silahkan dicoba, namun harus dilatih dengan tekun, sabar dan ichlas. Selamat berlatih dan mencoba mendirikan shalat khusuk dengan metoda sederhana ini, melalui shalat 5 waktu. Mudah mudahan Allah memberikan rahmat dan ilmuNya dikala kita mendirikan shalat. Amin. Hanya Allah yang Maha Benar dan Maha Tahu.